Rabu, 27 Agustus 2014

Sang Penunggu



Senin malam, Jakarta seperti biasanya macet. Bis arah Grogol sudah mulai penuh dengan manusia-manusia pekerja yang wajahnya letih dengan rutinitas mengejar kemakmuran hidup. Aku, beruntungnya mendapat tempat duduk di deretan ketiga. Letih setelah seharian melakukan rutinitas sewajarnya orang-orang dewasa yang mencari nafkah dan sorenya membeli tiket kereta untuk pulang kampung.

Tempat dudukku dekat dengan jendela. Aku suka posisi duduk dekat dengan jendela. Ditengah hiruk pikuk manusia yang terlihat letih, aku menikmati suasana ini. Menatap keluar jendela. Melihat ruko-ruko, orang lalu lalang, dan kerlap-kerlip lampu ibu kota. Ahh indahnya... Tapi jalan ini, jalan yang ku lewati sekarang mengingatkanku pada kenangan manis sekaligus pilu.

Malam ini, aku bernostalgia dengan kenangan. Ya, aku dan hanya kenangan disampingku yang menemani tanpa seseorang itu. Diam-diam dibalik masker yang aku pakai, aku tersenyum menatap sepanjang jalan yang aku pernah lalui bersama seseorang itu. Kenangan manis melawati jalan menuju pasar Senen.

“coba pasar Senen arahnya dimana?” seseorang itu tersenyum. “hmmm disitu” yakin aku menjawab. Hari itu hari sabtu, hujan turun sangat sangat deras. Keluar dari bis dan sampai di terminal, aku membuka payungku dan kami berjalan menuju pasar Senen dengan berteduh pada satu payung. Dia yang memegangkan payung dan sedikit memperbanyak luas bidang payung ke arahku agar aku tidak terlalu basah. Sedangkan bahunya sebelah kiri saja sudah basah kuyup. Terlihat dari jaketnya yang berwarna abu-abu.

Aku dengan seseorang itu menuju arah yang aku tunjuk. “dih, bukan ini mah” kecewaku. “masa udah dua kali gak hafal-hafal jalannya” seseorang itu tertawa. “aku kan buta jalan, kenapa gak ngasi tau sih kalau salah jalan”. “sengaja, makanya dihafal jalannya” sambil tertawa. Tanpa sadar aku mengaitkan tanganku di lengannya dan dia hanya tersenyum melihatku sambil sedikit menoleh ke arah lengannya. Saat tasnya jatuh aku tersadar dan melepas genggamanku.

“eh resleting tasnya terbuka” segera aku menutupinya. “lho kok bisa ya?” terlihat kaget raut wajahnya takut ada barang yang hilang atau diambil orang. “kan ada Tab, gak kebasahan nih?” tanyaku. “haha iya ya” hanya tertawa. Ah aku suka melihat tawanya setelah 2 tahun lamanya tidak melihat sosoknya.

Hari itu aku butuh buku dan derasnya hujan tidak  menghalangi niatku untuk pergi. Untungnya ada seseorang itu yang menemani. Hujan saat itu membuat kami saling berdekatan takut hujan membasahi tubuh kami. Dan dinginnya itu sangat menusuk. Padahal aku sudah memakai jaket yang ia pinjamkan. Jaket organisasinya yang bertuliskan namanya di dada. Memang saat itu hujan sangat deras, berangin, seperti badai. Ditambah jalan yang mulai membanjir. Hanya kami berdua orang konyol yang berjalan melawan hujan angin. Yang lain berteduh menunggu reda.

Jalan yang kami tuju menuju terminal lumayan jauh tapi semua tidak terasa. Dinginnya angin, derasnya hujan yang membasahi pundak kami, dan beceknya jalan yang mengotori sandal kami malah membuat suasana itu semakin seru. Benar-benar tidak terasa. Semuanya kami nikmati sambil tertawa-tawa. Ahh manisnya saat sedang jatuh cinta. Apa-apa yang menyebalkan malah terasa menyenangkan jika hati sedang berbunga-bunga. Entah bagaimana orang-orang dipinggir jalan yang berteduh melihat kami. Kami tidak peduli. Kami asyik dengan rasa ini.

“waduh hujan angin, lanjut gak nih?” tanyanya. “lanjut lah ntar kelamaan nunggu reda” balasku. “okee lanjut nih yaa”. “lanjuuuut” jawabku senang. Dengan payung yang mronta-ronta tertiup angin, kami melanjutkan perjalanan kami sampai tiba di pasar Senen. Jauh sekali jalannya tapi rasanya ingin jalan menuju pasar Senen semakin diperpanjang. Hingga rasa ini tetap lama mengalir.

Larut aku dalam kenangan manis itu setelahnya timbul sesak di dada. Nafasku terasa berat. Mengingat ini adalah kenangan. Letak kenangan selalu ada di belakang. Tidak akan terulang, tidak akan lagi. Aku mengatur nafasku. Dalam-dalam menarik nafas dan menghembuskannya. Menghilangkan sesak yang terasa.

Jalan masih macet. Mungkin kecepatannya hanya 20 km/jam . rasanya ingin cepat cepat melewati jalan ini. Setiap kali mengingat kenangan manis, rasa sakit itu mengikuti di belakang. Ahh aku rindu kenangan itu. Tapi semua itu tidak akan kembali. Aku memejamkan mata. Berharap bisa tertidur dan sesak ini hilang. Namun kenangan manis yang lain malah timbul.

Masa SMA adalah masa-masa paling indah menurut kebanyakan populasi dunia yang  merasakan muda. Saat itu aku berumur 17 tahun. Sibuk-sibuknya dengan rutinitasku mengejar nilai UN sebaik-baiknya agar lulus membanggakan. Selain sibuk dengan akademik, aku menghabiskan waktuku dengan berorganisasi. Bersama-sama dengan teman-teman seperjuangan dari pertama kali masuk SMA, kami tetap membangun kebersamaan organisasi kami.

Namun dibalik kesibukkan itu, aku jatuh hati pada sesorang. Di umur yang menurut orang-orang adalah umur termanis, aku merasakan rasa yang katanya indah sekali. Seseorang itu yang entah kenapa aku tidak tau saat melihat matanya, saat dia berbicara denganku, aku merasakan suatu kenyamanan yang datang tiba-tiba saja. Ada yang memacu jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya saat ada didekatnya. Dan dia berada di kelasku.

Saat aku mulai sadar merasakan ini. Diam-diam setiap hari saat aku mulai masuk kelas, pertama  kali yang aku cari adalah sosoknya. Mataku menelusuri penjuru kelas dan mencari wujudnya itu berada dimana. Dia selalu berada di kursi paling belakang. Sebenarnya aku ingin selalu mengikuti posisi duduknya tapi aku dan teman sebangkuku anak rajin, tidak mau duduk paling belakang.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. Aku menikmati rutinitasku berangkat kesekolah walaupun sedang pusing-pusingnya mengejar masa depan tapi rasanya selalu menyenangkan. Setiap hari bisa terus mengamatinya diam-diam. Setiap kali dia menolehkan wajah aku selalu buru-buru memalingkan mukaku. Takut nanti dia memergoki ku yang memperhatikannya melulu.

Dia selalu dikerubungi oleh teman-teman perempuanku yang modus bertanya pelajaran. Sedangkan aku tidak berani atau lebih tepatnya tidak bisa seagresif itu mendekatinya. Padahal dia tidak ganteng menurutku, hanya saja dia pintar sekali. Kerjaanya makan terus tapi badan masih kerempeng. Kalau ada waktu kosong juga dia sering tidur dipojok. Mukanya selalu terlihat mengantuk. Sama seperti aku sih. Mungkin kerjaanya belajar mulu hingga kurang tidur.

Wajahnya bersih, putih. Bibirnmya tebal di bawah. Matanya sayu, belok, berwarna coklat. Tingginya lumayan lah untuk ukuran lelaki. Badannya agak membungkuk dan saat aku mulai dekat dengannya aku baru tau kalau tulang belakangnya sedikit melengkung, bentuk tulang kifosis. Tulang belakang bagian torakal terasa sekali. Padahal badannya sudah diselimuti jaket tapi setiap lekuk tulangnya aku merasakannya. Aku tidak meraba-raba tubuhnya. Hanya sedikit saja punggung jariku menyentuh saat aku dibelakang jok motor.

Dia tidak bisa olahraga. Saat laki-laki lain sangat menyukai olahraga, dia lebih memilih diam melihat tidak ikut nimbrung main. Waktu itu pernah ujian olahraga lompat jauh. Saat dia lari rasanya aku ingin sekali menertawakannya keras-keras. Udah gitu lompatnya juga aneh. Lucu sekali orang ini. Anehnya, kekurangan dia tidak membuat hatiku surut menyukainya. Semua kekurangannya, kelebihannya, tingkah lakunya, aku suka semua itu.

Tibalah saat semester dua, aku melihatnya dia sedang dekat dengan sesorang yang aku kenal, sebut saja bunga. Saat UN sudah semakin dekat, mereka sering belajar bersama. Bahkan hanya belajar berduaan. Saat itu timbul rasa cemburu yang menjadi-jadi. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh pengagum rahasia. Cemburu? Itu hak mereka berdua. Selama itu aku hanya menyaksikannya di belakang.

Sesekali dikelas aku memberanikan diri bertanya padanya. Sebenarnya aku cenderung menutup diri pada lelaki. Aku juga menganggap pacaran itu hal yang tidak penting, tidak ada gunanya. Sekalinya ada teman sekelasku yang modus, aku selalu bersikap jutek. Tapi kali ini, rasanya aku ingin mendekat dengan satu lelaki. Sampai-sampai ada suatu kelompok belajar dikelasku dan itu isinya teman lelaki dikelasku yang suka modus. Demi ingin dekat dengan dia aku membuang rasa malu ku dan ikut belajar.

Ah iya dulu dia ingin sekali masuk UNIBRAW dan UNDIP. Karena dia ingin masuk universitas itu aku jadi bertekad masuk universitas yang dia tuju sampai aku tempel universitas impianku itu di kamar. Berharap kita dalam satu kampus yang sama tapi karena tidak diizinkan oleh orang tua karena terlalu jauh, tekadku itu musanah.

Selama dia dekat dengan bunga rasanya kesal sekali. Aku sering bercerita dengan temanku yang juga dekat dengan bunga. Mereka memang semakin dekat setiap hari. Bahkan saat aku pulang dari belajar kelompok aku melihat mereka berdua belajar hanya berdua dalam satu kelas dan pulang bersama. Saat melihat itu rasanya sakit sekali. Untungnya saat itu kesibukkan mengalihkan pikirannku. Teman-temanku juga menyemangatiku untuk tetap ikhlas. Sampai akhirnya aku mendengar mereka diterima di kampus yang sama.

Satu tahun, dua tahun, waktu berlalu. Selama itu aku berusaha menyibukkan diri di kampus. Ikut BEM, relawan ini itu, organisasi dekat rumah, dan jalan sana sini. Aku larut dalam kesibukkan tapi rasa itu masih menetap. Tidak berkurang sama sekali. Walaupun aku tau dari temanku bahwa mereka saling mengikat janji, semakin dekat, setiap minggu jalan bersama, makan bersama, pulang bersama, dan hal lain yang mereka lakukan bersama.

Pernah mencoba untuk menjalin hubungan dengan yang lain tapi rasanya tidak benar seperti ini. Bersama orang lain tapi hati memikirkan orang lain. Banyak yang datang mendekat tapi anehnya aku lebih memilih menjadi sang penunggu. Menunggumu diam-diam dan menyukaimu diam-diam. Entah kenapa, ada suatu keyakinan kalau nanti dia akan datang. Padahal hubungan mereka sudah sangat jauh. Ahh bodohnya aku.

Tiba-tiba bis mengerem mendadak dan aku kembali tersadar dari lamunan masa lalu. Aku melihat jam dan ternyata sudah 2 jam lebih berlalu. Tempat itu sudah jauh terlewati aku seperrti berada dalam mimpi, mimpi panjang yang mengulang rasa masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar