Senin malam, Jakarta seperti biasanya
macet. Bis arah Grogol sudah mulai penuh dengan manusia-manusia pekerja yang
wajahnya letih dengan rutinitas mengejar kemakmuran hidup. Aku, beruntungnya
mendapat tempat duduk di deretan ketiga. Letih setelah seharian melakukan
rutinitas sewajarnya orang-orang dewasa yang mencari nafkah dan sorenya membeli
tiket kereta untuk pulang kampung.
Tempat dudukku dekat dengan jendela. Aku
suka posisi duduk dekat dengan jendela. Ditengah hiruk pikuk manusia yang
terlihat letih, aku menikmati suasana ini. Menatap keluar jendela. Melihat
ruko-ruko, orang lalu lalang, dan kerlap-kerlip lampu ibu kota. Ahh indahnya...
Tapi jalan ini, jalan yang ku lewati sekarang mengingatkanku pada kenangan
manis sekaligus pilu.
Malam ini, aku bernostalgia dengan
kenangan. Ya, aku dan hanya kenangan disampingku yang menemani tanpa seseorang
itu. Diam-diam dibalik masker yang aku pakai, aku tersenyum menatap sepanjang
jalan yang aku pernah lalui bersama seseorang itu. Kenangan manis melawati
jalan menuju pasar Senen.
“coba pasar Senen arahnya dimana?”
seseorang itu tersenyum. “hmmm disitu” yakin aku menjawab. Hari itu hari sabtu,
hujan turun sangat sangat deras. Keluar dari bis dan sampai di terminal, aku
membuka payungku dan kami berjalan menuju pasar Senen dengan berteduh pada satu
payung. Dia yang memegangkan payung dan sedikit memperbanyak luas bidang payung
ke arahku agar aku tidak terlalu basah. Sedangkan bahunya sebelah kiri saja
sudah basah kuyup. Terlihat dari jaketnya yang berwarna abu-abu.
Aku dengan seseorang itu menuju arah yang
aku tunjuk. “dih, bukan ini mah” kecewaku. “masa udah dua kali gak hafal-hafal
jalannya” seseorang itu tertawa. “aku kan buta jalan, kenapa gak ngasi tau sih
kalau salah jalan”. “sengaja, makanya dihafal jalannya” sambil tertawa. Tanpa
sadar aku mengaitkan tanganku di lengannya dan dia hanya tersenyum melihatku
sambil sedikit menoleh ke arah lengannya. Saat tasnya jatuh aku tersadar dan
melepas genggamanku.
“eh resleting tasnya terbuka” segera aku
menutupinya. “lho kok bisa ya?” terlihat kaget raut wajahnya takut ada barang
yang hilang atau diambil orang. “kan ada Tab, gak kebasahan nih?” tanyaku.
“haha iya ya” hanya tertawa. Ah aku suka melihat tawanya setelah 2 tahun
lamanya tidak melihat sosoknya.
Hari itu aku butuh buku dan derasnya
hujan tidak menghalangi niatku untuk pergi. Untungnya ada seseorang itu
yang menemani. Hujan saat itu membuat kami saling berdekatan takut hujan
membasahi tubuh kami. Dan dinginnya itu sangat menusuk. Padahal aku sudah
memakai jaket yang ia pinjamkan. Jaket organisasinya yang bertuliskan namanya
di dada. Memang saat itu hujan sangat deras, berangin, seperti badai. Ditambah
jalan yang mulai membanjir. Hanya kami berdua orang konyol yang berjalan melawan
hujan angin. Yang lain berteduh menunggu reda.
Jalan yang kami tuju menuju terminal
lumayan jauh tapi semua tidak terasa. Dinginnya angin, derasnya hujan yang
membasahi pundak kami, dan beceknya jalan yang mengotori sandal kami malah
membuat suasana itu semakin seru. Benar-benar tidak terasa. Semuanya kami
nikmati sambil tertawa-tawa. Ahh manisnya saat sedang jatuh cinta. Apa-apa yang
menyebalkan malah terasa menyenangkan jika hati sedang berbunga-bunga. Entah
bagaimana orang-orang dipinggir jalan yang berteduh melihat kami. Kami tidak
peduli. Kami asyik dengan rasa ini.
“waduh hujan angin, lanjut gak nih?”
tanyanya. “lanjut lah ntar kelamaan nunggu reda” balasku. “okee lanjut nih
yaa”. “lanjuuuut” jawabku senang. Dengan payung yang mronta-ronta tertiup angin,
kami melanjutkan perjalanan kami sampai tiba di pasar Senen. Jauh sekali
jalannya tapi rasanya ingin jalan menuju pasar Senen semakin diperpanjang.
Hingga rasa ini tetap lama mengalir.
Larut aku dalam kenangan manis itu
setelahnya timbul sesak di dada. Nafasku terasa berat. Mengingat ini adalah
kenangan. Letak kenangan selalu ada di belakang. Tidak akan terulang, tidak
akan lagi. Aku mengatur nafasku. Dalam-dalam menarik nafas dan
menghembuskannya. Menghilangkan sesak yang terasa.
Jalan masih macet. Mungkin kecepatannya
hanya 20 km/jam . rasanya ingin cepat cepat melewati jalan ini. Setiap kali
mengingat kenangan manis, rasa sakit itu mengikuti di belakang. Ahh aku rindu
kenangan itu. Tapi semua itu tidak akan kembali. Aku memejamkan mata. Berharap
bisa tertidur dan sesak ini hilang. Namun kenangan manis yang lain malah timbul.
Masa SMA adalah masa-masa paling indah
menurut kebanyakan populasi dunia yang merasakan muda. Saat itu aku
berumur 17 tahun. Sibuk-sibuknya dengan rutinitasku mengejar nilai UN
sebaik-baiknya agar lulus membanggakan. Selain sibuk dengan akademik, aku
menghabiskan waktuku dengan berorganisasi. Bersama-sama dengan teman-teman
seperjuangan dari pertama kali masuk SMA, kami tetap membangun kebersamaan
organisasi kami.
Namun dibalik kesibukkan itu, aku jatuh
hati pada sesorang. Di umur yang menurut orang-orang adalah umur termanis, aku
merasakan rasa yang katanya indah sekali. Seseorang itu yang entah kenapa aku
tidak tau saat melihat matanya, saat dia berbicara denganku, aku merasakan
suatu kenyamanan yang datang tiba-tiba saja. Ada yang memacu jantungku berdegup
lebih kencang dari biasanya saat ada didekatnya. Dan dia berada di kelasku.
Saat aku mulai sadar merasakan ini.
Diam-diam setiap hari saat aku mulai masuk kelas, pertama kali yang aku
cari adalah sosoknya. Mataku menelusuri penjuru kelas dan mencari wujudnya itu
berada dimana. Dia selalu berada di kursi paling belakang. Sebenarnya aku ingin
selalu mengikuti posisi duduknya tapi aku dan teman sebangkuku anak rajin, tidak
mau duduk paling belakang.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan
berlalu. Aku menikmati rutinitasku berangkat kesekolah walaupun sedang
pusing-pusingnya mengejar masa depan tapi rasanya selalu menyenangkan. Setiap
hari bisa terus mengamatinya diam-diam. Setiap kali dia menolehkan wajah aku
selalu buru-buru memalingkan mukaku. Takut nanti dia memergoki ku yang
memperhatikannya melulu.
Dia selalu dikerubungi oleh teman-teman
perempuanku yang modus bertanya pelajaran. Sedangkan aku tidak berani atau
lebih tepatnya tidak bisa seagresif itu mendekatinya. Padahal dia tidak ganteng
menurutku, hanya saja dia pintar sekali. Kerjaanya makan terus tapi badan masih
kerempeng. Kalau ada waktu kosong juga dia sering tidur dipojok. Mukanya selalu
terlihat mengantuk. Sama seperti aku sih. Mungkin kerjaanya belajar mulu hingga
kurang tidur.
Wajahnya bersih, putih. Bibirnmya tebal
di bawah. Matanya sayu, belok, berwarna coklat. Tingginya lumayan lah untuk
ukuran lelaki. Badannya agak membungkuk dan saat aku mulai dekat dengannya aku
baru tau kalau tulang belakangnya sedikit melengkung, bentuk tulang kifosis.
Tulang belakang bagian torakal terasa sekali. Padahal badannya sudah diselimuti
jaket tapi setiap lekuk tulangnya aku merasakannya. Aku tidak meraba-raba
tubuhnya. Hanya sedikit saja punggung jariku menyentuh saat aku dibelakang jok
motor.
Dia tidak bisa olahraga. Saat laki-laki
lain sangat menyukai olahraga, dia lebih memilih diam melihat tidak ikut
nimbrung main. Waktu itu pernah ujian olahraga lompat jauh. Saat dia lari
rasanya aku ingin sekali menertawakannya keras-keras. Udah gitu lompatnya juga
aneh. Lucu sekali orang ini. Anehnya, kekurangan dia tidak membuat hatiku surut
menyukainya. Semua kekurangannya, kelebihannya, tingkah lakunya, aku suka semua
itu.
Tibalah saat semester dua, aku melihatnya
dia sedang dekat dengan sesorang yang aku kenal, sebut saja bunga. Saat UN
sudah semakin dekat, mereka sering belajar bersama. Bahkan hanya belajar berduaan.
Saat itu timbul rasa cemburu yang menjadi-jadi. Tapi apa yang bisa dilakukan
oleh pengagum rahasia. Cemburu? Itu hak mereka berdua. Selama itu aku hanya
menyaksikannya di belakang.
Sesekali dikelas aku memberanikan diri
bertanya padanya. Sebenarnya aku cenderung menutup diri pada lelaki. Aku juga
menganggap pacaran itu hal yang tidak penting, tidak ada gunanya. Sekalinya ada
teman sekelasku yang modus, aku selalu bersikap jutek. Tapi kali ini, rasanya
aku ingin mendekat dengan satu lelaki. Sampai-sampai ada suatu kelompok belajar
dikelasku dan itu isinya teman lelaki dikelasku yang suka modus. Demi ingin
dekat dengan dia aku membuang rasa malu ku dan ikut belajar.
Ah iya dulu dia ingin sekali masuk
UNIBRAW dan UNDIP. Karena dia ingin masuk universitas itu aku jadi bertekad
masuk universitas yang dia tuju sampai aku tempel universitas impianku itu di
kamar. Berharap kita dalam satu kampus yang sama tapi karena tidak diizinkan
oleh orang tua karena terlalu jauh, tekadku itu musanah.
Selama dia dekat dengan bunga rasanya
kesal sekali. Aku sering bercerita dengan temanku yang juga dekat dengan bunga.
Mereka memang semakin dekat setiap hari. Bahkan saat aku pulang dari belajar
kelompok aku melihat mereka berdua belajar hanya berdua dalam satu kelas dan
pulang bersama. Saat melihat itu rasanya sakit sekali. Untungnya saat itu
kesibukkan mengalihkan pikirannku. Teman-temanku juga menyemangatiku untuk
tetap ikhlas. Sampai akhirnya aku mendengar mereka diterima di kampus yang
sama.
Satu tahun, dua tahun, waktu berlalu.
Selama itu aku berusaha menyibukkan diri di kampus. Ikut BEM, relawan ini itu,
organisasi dekat rumah, dan jalan sana sini. Aku larut dalam kesibukkan tapi
rasa itu masih menetap. Tidak berkurang sama sekali. Walaupun aku tau dari temanku
bahwa mereka saling mengikat janji, semakin dekat, setiap minggu jalan bersama,
makan bersama, pulang bersama, dan hal lain yang mereka lakukan bersama.
Pernah mencoba untuk menjalin hubungan
dengan yang lain tapi rasanya tidak benar seperti ini. Bersama orang lain tapi
hati memikirkan orang lain. Banyak yang datang mendekat tapi anehnya aku lebih
memilih menjadi sang penunggu. Menunggumu diam-diam dan menyukaimu diam-diam.
Entah kenapa, ada suatu keyakinan kalau nanti dia akan datang. Padahal hubungan
mereka sudah sangat jauh. Ahh bodohnya aku.
Tiba-tiba bis mengerem mendadak dan aku
kembali tersadar dari lamunan masa lalu. Aku melihat jam dan ternyata sudah 2
jam lebih berlalu. Tempat itu sudah jauh terlewati aku seperrti berada dalam
mimpi, mimpi panjang yang mengulang rasa masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar