Jumat, 29 Agustus 2014

Nganggur

oh mengapa begini rasanya pengangguran?? -.-
mulai tanggal 1 Juli 2014, setelah yudisium, status gue berubah menjadi bidan dengan gelar Am.Keb. alhamdulillah lulus secara akademik tapiii berdasarkan keputusan kemendikbud tentang penyelenggaraan uji kompetensi yang secara garis besar menyatakan bahwa UJI KOMPETENSI TIDAK DIJADIKAN EXIT EXAM. serentak suara yang berisikan kurang lebih 300 anak kebidanan dan keperawatan itu menggeleggar. sebenernya enggak sih semuanya diem. mungkin masih bingung.

belum selesai sampai disitu. ada pernyataan lain yang mengatakan bahwa untuk bekerja dalam lingkup kesehatan maka para lulusan yang sudah dinyatakan lulus akademik harus memilikki STR dan jalan mendapatkan STR adalah dengan mengikuti uji kompetensi. kabar ini membuat gue tak berdaya. bagaimana tidaaak? artinya untuk bisa bekerja diinstansi negri seperti jadi CPNS, kerja di puskesmas, RSUD, atau rumah sakit besar biasanya minta STR. Sedangkan Uji Kompetensi ada bulan September. katanya... masih wacana.

setelah pemberitaan itu, gue mikir keras. selama tiga bulan pengangguran gue mau ngapain aja inii. akhirnya kemarin pas bulan puasa gue dan kesembilan anak rajin yang lain memutuskan magang di RSUD tangerang. ya beginilah hidup. berkorban demi masa depan. merelakan diri ditinggal sanak saudara pulang kampung dan lebaran di kosan. gue sih enggak karena rumah gue di tangerang tapi yang lain nasibnya menyedihkan seperti yang gue bilang tadi. satu bulan, ya lumayan ngisi kekosongan sambil ngelatih skill. 

setelah magang itu gue bingung mau ngapain lagi. katanya ada pengayaan rutin selama dua minggu dan try out uji kompetensi tapi nyatanya. hanya PHP dosen lah yang kami dapat. 2 hari tangerang-bekasi-tangerang dan ternyata dosennya gak bisaa saudara saudara. bagaimana rasanya? pedih, pilu sakit hati kayak di PHPin mantan. *seketika galau* ditambah lagi ternyata uji kompetensi diundur sampe november. Aaarrgghhhhh


sekarang rutinitas gue cuma bangun tidur, makan, nyapu, ngepel, tidur lagi, dan tak lupa gosok gigi. sesekali ya nonton drama korea, baca novel, baca pelajaran kalau otak lagi nyambung, main komputer, kepoin orang, ke gramed (numpang baca gak beli), main sama temen, atau ngeblog kayak yang gue lakukan sekarang. ngeblog ngehibur gue banget di waktu yang sangat kosong ini. otak gue jadi terus bekerja buat nulis dan gue bisa meluapkan emosi gue yang sedang gundah gulana ini disini. *jadi curhat*

disaat begini gue harus terus menyibukkan diri biar gak timbul pikiran-pikiran aneh lagi. untungnya gue punya temen-temen setia yang menemani. kayak icong temen gue dari orok sampe sekarang selalu ada buat kue. temen SMP gue yang minggu kemarin abis curhat abis-abisan semua sampe nangis-nangis. temen curhat SMA gue rina yang selalu tegas ngasi saran ke gue. Temen kuliah gue anak-anak pisman yang selalu jadi reminder gue. temen-temen kuliah gue yang selalu setia menampung keluh kesah gue walaupun sekarang mereka sudah nan jauh dimato.

yaa mereka penghibur gue banget disaat kayak gini. sebelum menyadari ada mereka-merea temen gue yang setia, gue frustasi banget udah gak ada kegiatan, pengangguran, ditambah masalah itu. sampai-sampai gue pengen kerja jadi apa aja itu mau jadi OB kek kasir atau kerja di Bank yang penting ada kerjaan gak nganggur. malah gue sampe ngotot mau ikutan relawan sana sini. niatnya mau pengabdian tapi gak berpenghasilan nanti malah nyusahin orang tua. sekarang aja malu kemana-mana malu kalau minta duit mulu. udah punya gelar tapi gak bisa menghidupi diri sendiri.

ternyata gak enak banget ya pengangguran gini gak ada kerjaan. rasanya hidup hampa. mau pergi kemana-mana juga gak enak ngabisin uang orang tua. dulu pas masih kuliah lagi sibuk-sibuknya ngeluh capek kurang tidur dan keluhan lainnya. sekarang udah dikasi waktu nganggur panjang bisa tidur sebanyak-banyaknya malah gak betah. ahh dasar manusia gak pernah bersyukur. -,-

sekarang harusnya bersyukur dalam situasi apapun sa T.T9. mumpung masih nganggur bisa perbanyak bantu oang tua. bisa ngerjain hal-hal yang dulu pas kuliah gak bisa dilakukan sampeeeee bosen. tapi kangen juga sama rutinitas kuliah dulu. sekarang jadi pengen kuliah lagi. dulu menggebu-gebu banget pengen lanjut kuliah langsung pas lulus. eh sekarang semua tekad itu sirna.. kondisi keuangan rumah tangga memaksa aku untuk bekerja. -,- ya gapapalah.. tahun depan masih bisa nyoba.

hari ini dan seterusnya ayooo terus bersemangat dan tetap bersyukur :)

Rabu, 27 Agustus 2014

Sang Penunggu



Senin malam, Jakarta seperti biasanya macet. Bis arah Grogol sudah mulai penuh dengan manusia-manusia pekerja yang wajahnya letih dengan rutinitas mengejar kemakmuran hidup. Aku, beruntungnya mendapat tempat duduk di deretan ketiga. Letih setelah seharian melakukan rutinitas sewajarnya orang-orang dewasa yang mencari nafkah dan sorenya membeli tiket kereta untuk pulang kampung.

Tempat dudukku dekat dengan jendela. Aku suka posisi duduk dekat dengan jendela. Ditengah hiruk pikuk manusia yang terlihat letih, aku menikmati suasana ini. Menatap keluar jendela. Melihat ruko-ruko, orang lalu lalang, dan kerlap-kerlip lampu ibu kota. Ahh indahnya... Tapi jalan ini, jalan yang ku lewati sekarang mengingatkanku pada kenangan manis sekaligus pilu.

Malam ini, aku bernostalgia dengan kenangan. Ya, aku dan hanya kenangan disampingku yang menemani tanpa seseorang itu. Diam-diam dibalik masker yang aku pakai, aku tersenyum menatap sepanjang jalan yang aku pernah lalui bersama seseorang itu. Kenangan manis melawati jalan menuju pasar Senen.

“coba pasar Senen arahnya dimana?” seseorang itu tersenyum. “hmmm disitu” yakin aku menjawab. Hari itu hari sabtu, hujan turun sangat sangat deras. Keluar dari bis dan sampai di terminal, aku membuka payungku dan kami berjalan menuju pasar Senen dengan berteduh pada satu payung. Dia yang memegangkan payung dan sedikit memperbanyak luas bidang payung ke arahku agar aku tidak terlalu basah. Sedangkan bahunya sebelah kiri saja sudah basah kuyup. Terlihat dari jaketnya yang berwarna abu-abu.

Aku dengan seseorang itu menuju arah yang aku tunjuk. “dih, bukan ini mah” kecewaku. “masa udah dua kali gak hafal-hafal jalannya” seseorang itu tertawa. “aku kan buta jalan, kenapa gak ngasi tau sih kalau salah jalan”. “sengaja, makanya dihafal jalannya” sambil tertawa. Tanpa sadar aku mengaitkan tanganku di lengannya dan dia hanya tersenyum melihatku sambil sedikit menoleh ke arah lengannya. Saat tasnya jatuh aku tersadar dan melepas genggamanku.

“eh resleting tasnya terbuka” segera aku menutupinya. “lho kok bisa ya?” terlihat kaget raut wajahnya takut ada barang yang hilang atau diambil orang. “kan ada Tab, gak kebasahan nih?” tanyaku. “haha iya ya” hanya tertawa. Ah aku suka melihat tawanya setelah 2 tahun lamanya tidak melihat sosoknya.

Hari itu aku butuh buku dan derasnya hujan tidak  menghalangi niatku untuk pergi. Untungnya ada seseorang itu yang menemani. Hujan saat itu membuat kami saling berdekatan takut hujan membasahi tubuh kami. Dan dinginnya itu sangat menusuk. Padahal aku sudah memakai jaket yang ia pinjamkan. Jaket organisasinya yang bertuliskan namanya di dada. Memang saat itu hujan sangat deras, berangin, seperti badai. Ditambah jalan yang mulai membanjir. Hanya kami berdua orang konyol yang berjalan melawan hujan angin. Yang lain berteduh menunggu reda.

Jalan yang kami tuju menuju terminal lumayan jauh tapi semua tidak terasa. Dinginnya angin, derasnya hujan yang membasahi pundak kami, dan beceknya jalan yang mengotori sandal kami malah membuat suasana itu semakin seru. Benar-benar tidak terasa. Semuanya kami nikmati sambil tertawa-tawa. Ahh manisnya saat sedang jatuh cinta. Apa-apa yang menyebalkan malah terasa menyenangkan jika hati sedang berbunga-bunga. Entah bagaimana orang-orang dipinggir jalan yang berteduh melihat kami. Kami tidak peduli. Kami asyik dengan rasa ini.

“waduh hujan angin, lanjut gak nih?” tanyanya. “lanjut lah ntar kelamaan nunggu reda” balasku. “okee lanjut nih yaa”. “lanjuuuut” jawabku senang. Dengan payung yang mronta-ronta tertiup angin, kami melanjutkan perjalanan kami sampai tiba di pasar Senen. Jauh sekali jalannya tapi rasanya ingin jalan menuju pasar Senen semakin diperpanjang. Hingga rasa ini tetap lama mengalir.

Larut aku dalam kenangan manis itu setelahnya timbul sesak di dada. Nafasku terasa berat. Mengingat ini adalah kenangan. Letak kenangan selalu ada di belakang. Tidak akan terulang, tidak akan lagi. Aku mengatur nafasku. Dalam-dalam menarik nafas dan menghembuskannya. Menghilangkan sesak yang terasa.

Jalan masih macet. Mungkin kecepatannya hanya 20 km/jam . rasanya ingin cepat cepat melewati jalan ini. Setiap kali mengingat kenangan manis, rasa sakit itu mengikuti di belakang. Ahh aku rindu kenangan itu. Tapi semua itu tidak akan kembali. Aku memejamkan mata. Berharap bisa tertidur dan sesak ini hilang. Namun kenangan manis yang lain malah timbul.

Masa SMA adalah masa-masa paling indah menurut kebanyakan populasi dunia yang  merasakan muda. Saat itu aku berumur 17 tahun. Sibuk-sibuknya dengan rutinitasku mengejar nilai UN sebaik-baiknya agar lulus membanggakan. Selain sibuk dengan akademik, aku menghabiskan waktuku dengan berorganisasi. Bersama-sama dengan teman-teman seperjuangan dari pertama kali masuk SMA, kami tetap membangun kebersamaan organisasi kami.

Namun dibalik kesibukkan itu, aku jatuh hati pada sesorang. Di umur yang menurut orang-orang adalah umur termanis, aku merasakan rasa yang katanya indah sekali. Seseorang itu yang entah kenapa aku tidak tau saat melihat matanya, saat dia berbicara denganku, aku merasakan suatu kenyamanan yang datang tiba-tiba saja. Ada yang memacu jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya saat ada didekatnya. Dan dia berada di kelasku.

Saat aku mulai sadar merasakan ini. Diam-diam setiap hari saat aku mulai masuk kelas, pertama  kali yang aku cari adalah sosoknya. Mataku menelusuri penjuru kelas dan mencari wujudnya itu berada dimana. Dia selalu berada di kursi paling belakang. Sebenarnya aku ingin selalu mengikuti posisi duduknya tapi aku dan teman sebangkuku anak rajin, tidak mau duduk paling belakang.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. Aku menikmati rutinitasku berangkat kesekolah walaupun sedang pusing-pusingnya mengejar masa depan tapi rasanya selalu menyenangkan. Setiap hari bisa terus mengamatinya diam-diam. Setiap kali dia menolehkan wajah aku selalu buru-buru memalingkan mukaku. Takut nanti dia memergoki ku yang memperhatikannya melulu.

Dia selalu dikerubungi oleh teman-teman perempuanku yang modus bertanya pelajaran. Sedangkan aku tidak berani atau lebih tepatnya tidak bisa seagresif itu mendekatinya. Padahal dia tidak ganteng menurutku, hanya saja dia pintar sekali. Kerjaanya makan terus tapi badan masih kerempeng. Kalau ada waktu kosong juga dia sering tidur dipojok. Mukanya selalu terlihat mengantuk. Sama seperti aku sih. Mungkin kerjaanya belajar mulu hingga kurang tidur.

Wajahnya bersih, putih. Bibirnmya tebal di bawah. Matanya sayu, belok, berwarna coklat. Tingginya lumayan lah untuk ukuran lelaki. Badannya agak membungkuk dan saat aku mulai dekat dengannya aku baru tau kalau tulang belakangnya sedikit melengkung, bentuk tulang kifosis. Tulang belakang bagian torakal terasa sekali. Padahal badannya sudah diselimuti jaket tapi setiap lekuk tulangnya aku merasakannya. Aku tidak meraba-raba tubuhnya. Hanya sedikit saja punggung jariku menyentuh saat aku dibelakang jok motor.

Dia tidak bisa olahraga. Saat laki-laki lain sangat menyukai olahraga, dia lebih memilih diam melihat tidak ikut nimbrung main. Waktu itu pernah ujian olahraga lompat jauh. Saat dia lari rasanya aku ingin sekali menertawakannya keras-keras. Udah gitu lompatnya juga aneh. Lucu sekali orang ini. Anehnya, kekurangan dia tidak membuat hatiku surut menyukainya. Semua kekurangannya, kelebihannya, tingkah lakunya, aku suka semua itu.

Tibalah saat semester dua, aku melihatnya dia sedang dekat dengan sesorang yang aku kenal, sebut saja bunga. Saat UN sudah semakin dekat, mereka sering belajar bersama. Bahkan hanya belajar berduaan. Saat itu timbul rasa cemburu yang menjadi-jadi. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh pengagum rahasia. Cemburu? Itu hak mereka berdua. Selama itu aku hanya menyaksikannya di belakang.

Sesekali dikelas aku memberanikan diri bertanya padanya. Sebenarnya aku cenderung menutup diri pada lelaki. Aku juga menganggap pacaran itu hal yang tidak penting, tidak ada gunanya. Sekalinya ada teman sekelasku yang modus, aku selalu bersikap jutek. Tapi kali ini, rasanya aku ingin mendekat dengan satu lelaki. Sampai-sampai ada suatu kelompok belajar dikelasku dan itu isinya teman lelaki dikelasku yang suka modus. Demi ingin dekat dengan dia aku membuang rasa malu ku dan ikut belajar.

Ah iya dulu dia ingin sekali masuk UNIBRAW dan UNDIP. Karena dia ingin masuk universitas itu aku jadi bertekad masuk universitas yang dia tuju sampai aku tempel universitas impianku itu di kamar. Berharap kita dalam satu kampus yang sama tapi karena tidak diizinkan oleh orang tua karena terlalu jauh, tekadku itu musanah.

Selama dia dekat dengan bunga rasanya kesal sekali. Aku sering bercerita dengan temanku yang juga dekat dengan bunga. Mereka memang semakin dekat setiap hari. Bahkan saat aku pulang dari belajar kelompok aku melihat mereka berdua belajar hanya berdua dalam satu kelas dan pulang bersama. Saat melihat itu rasanya sakit sekali. Untungnya saat itu kesibukkan mengalihkan pikirannku. Teman-temanku juga menyemangatiku untuk tetap ikhlas. Sampai akhirnya aku mendengar mereka diterima di kampus yang sama.

Satu tahun, dua tahun, waktu berlalu. Selama itu aku berusaha menyibukkan diri di kampus. Ikut BEM, relawan ini itu, organisasi dekat rumah, dan jalan sana sini. Aku larut dalam kesibukkan tapi rasa itu masih menetap. Tidak berkurang sama sekali. Walaupun aku tau dari temanku bahwa mereka saling mengikat janji, semakin dekat, setiap minggu jalan bersama, makan bersama, pulang bersama, dan hal lain yang mereka lakukan bersama.

Pernah mencoba untuk menjalin hubungan dengan yang lain tapi rasanya tidak benar seperti ini. Bersama orang lain tapi hati memikirkan orang lain. Banyak yang datang mendekat tapi anehnya aku lebih memilih menjadi sang penunggu. Menunggumu diam-diam dan menyukaimu diam-diam. Entah kenapa, ada suatu keyakinan kalau nanti dia akan datang. Padahal hubungan mereka sudah sangat jauh. Ahh bodohnya aku.

Tiba-tiba bis mengerem mendadak dan aku kembali tersadar dari lamunan masa lalu. Aku melihat jam dan ternyata sudah 2 jam lebih berlalu. Tempat itu sudah jauh terlewati aku seperrti berada dalam mimpi, mimpi panjang yang mengulang rasa masa lalu.

Jumat, 22 Agustus 2014

Rindu

Ada yang bilang rindu itu indah
Ada juga yang bilang seperti menggenggam duri
Sakit, tapi sulit dilepas
Rasa itu pilihan
Entah terasa perih atau semanis madu

Mungkin beberapa orang measa menumpuk rindu itu seru
Yang sewaktu-waktu nanti meledak mengejutkan
Atau tertahan terus menerus yang akhirnya meledak berceceran tak tersampaikan
Atau mungkin terus membesar seperti balon dan akhirnya melayang terbawa waktu
Entahlah, setiap orang punya pilihan bukan?

Rindu itu unik
Segumpal perasaan yang terpaut kenangan
Selalu diungkit-ungkit dalam hati dan pikiran
Semakin lama dipendam semakin kental
Bisa jadi semakin manis atau semakin perih

Tapi rinduku ini sendu
Tertahan melulu
Sekalinya meledak rasanya pahit
Kalau dipendam rasanya sesak
Ahhh semua serba salah

Mungkin seharusnya bukan disampaikan langsung biar tidak pahit
Mungkin harusnya disampaikan pada Sang pemilik hati
Atau serahkan pada waktu biar ia menerbangkannya
Atau ungkapkan pada angin biar ia terbawa jauh
Ahhh entahlah

Rindu, maumu apa?
Aku lelah menahanmu
Tapi tak bisa juga mengeluarkanmu
Kalaupun dilepaskan bebas tidak ada yang menangkap
Ahhh rindu..

AYAH



Ayah adalah lelaki paling paling setia yang pernah saya temui. Dari saya SD sampe saya sudah lulus kuliah, ayah yang selalu siap sedia mengantar jemput saya sekolah. Ayah selalu ada setiap kali saya minta untuk jemput, saya pulang kuliah setiap minggu atau mengantar saya ke asrama setiap minggu di terminal. Umur beliau sudah tua. 58 tahun, tahun ini. Seharusnya ubannya sudah menutupi seluruh kepalanya tapi beliau selalu mewarnai rambutnya dengan warna hitam biar keliatan muda. Warna rambut ayah saya sedikit pirang, sama seperti saya.

Semakin hari wajahnya semakin banyak keriput. Semakin menua. Semakin ringkih. Semakin kurus. Giginya saja sudah bolong dimana-mana. Sudah menghitam habis dimakan nikotin. Saya benci orang perokok. Termasuk ayah saya. Setiap kali beliau merokok saya selalu mengusirnya dengan nada tinggi. Dengan nada tinggi yang seharusnya tidak boleh seperti itu dalam agama. Kadang memang saya tidak tau diri tapi kadang menyesal setiap kali berbicara dengan nada tinggi dengan ayah saya.

Ayah saya tidak banyak bicara tapi sekalinya bicara panjaaaaaang banget. Beliau selalu menceramahi saya dengan cerita-cerita motivasi. Kadang omongannya gak masuk akal tapi kadang memotivasi. Setiap kali beliau cerita, saya lebih banyak diam. Diam menahan tangis sebenarnya. Takut suara saya bergetar saat berbicara jadi saya lebih banyak mendengar.

Ayah selalu cerita tentang sulitnya beliau di masa muda yang mau sekolah cuma bermodalkan semangat. Ayah selalu bilang “kamu beruntung bisa sekolah enak, dulu ayah gak bisa”. Kata-kata itu saja sudah bikin saya mewek tapi ditahan. Ayah cerita tentang bagaimana susahnya punya keinginan tinggi tapi gak punya modal. Ayah pernah cerita dulu pengen sekolah di Malang tapi karena gak punya modal jadi ayah bekerja. Dilanjut dengan cerita saat ayah bekerja yang honorer bertahun-tahun lamanya baru diangkat jadi PNS. Pokoknya panjang banget cerita ayah sampai dia bisa S2 sekarang. Dan itu selalu di ulang-ulang. Tapi cerita sulitnya beliau yang ingin punya pendidikan setinggi-tingginya yang membuat saya selalu terpacu untuk kuliah lagi dan gak stuck di D3 aja.

Kadang di motor ayah cerita angan-angannya tentang saya. Beliau bilang “nanti kalau kasa sudah jadi bidan kontrakan atas ayah kosongin buat kamu praktek. Nanti ayah promosiin ke temen-temen ayah biar tempat prakteknya rame. Ayah kan belajar pemasaran jadi nanti ayah bisa promosiin biar rame”. Kata-kata ini bikin mata saya banjir yang waktu itu duduk dibelakang. Sampai segitunya ayah saya merancang masa depan saya. Sebelumnya ayah saya berharap saya jadi akuntan atau ngambil ekonomi, pokoknya yang berhubungan dengan keuangan supaya bisa melanjutkan ayah saya yang dulu kerja di keuangan. Tapi saya menolak dan keras kepala pengen jadi tenaga kesehatan. Untungnya lama-lama ayah saya luluh. Sekarang adik saya yang perempuan yang melanjutkan ambisi ayah saya menjadi akuntan. Walaupun tahun ini belum dapet tapi dia tetep kekeh ngambil akuntan di tahun depan. Semangat ade saya ini yang bikin saya lega setidaknya ada ade saya yang mau menuruti harapan ayah saya.

Sekarang saya sudah lulus tapi belum berpenghasilan. Wisuda juga belum sih. Dan ini yang bikin makin terbebani. Waktu itu saya dan ayah saya pernah lihat mobil bagus pas ayah saya nganterin ke kalideres. Ayah saya bilang begini “kalau perempuan bagus nih mobilnya kalau begini. Nanti kasa kalau udah kerja nabung beli mobil yang begini”. Huaaaaah rasanya pecah tangis saya saat itu dengernya. Terlalu banyak harapan ayah buat saya. Saya tau ayah saya pengen banget punya mobil tapi karena urusan pendidikan saya yang belum tuntas jadi ayah merelakan diri tidak punya mobil dan ini bikin saya nangis seketika saat ayah saya bilang seperti itu.

Ayah pernah bilang kalau dari saya dalam kandungan ayah sudah merancang masa depan saya dan adik-adik saya jadi kalau mau sekolah setinggi-tingginya ayah saya menyanggupi bagaimanapun keadaannya nanti. Ahhh rasanya pengen nangis melulu setiap kali ayah saya mengeluarkan banyak harapannya dan memikirkan masa depan saya sebegitu jauhnya. Padahal anaknya malah mikirin seseorang yang gak pernah mikirin saya. Ampuni anakmu ini yaaah. -,-

Saya dan ayah saya memiliki banyak kesamaan. Dalam biologi anak perempuan mewarisi sebagian besar gen ayahnya. Dan kenyataan ini benar sangat terbukti. Saya dan ayah saya sama-sama buta jalan. Kalau kami disatukan disuatu tempat yang asing mungkin kami selalu nyasar. Waktu itu pernah ayah saya mennjemput saya pulang dari asrama dan jalan yang biasa dilewati macet. Alhasil ayah nyoba jalan tikus yang gak pernah dilewatin dan akhirnya nyasar sampai ke sawah-sawah. -___-

Ayah saya juga keras kepala sama seperti saya makanya saya sering debat dengan ayah. Ayah juga bilang kalau saya mirip banget dengan ayah saat masih sekolah. Pemikir. Kalau dapet nilai jelek dipikirin terus dan sampai stress turun berat badan dan makan kurang. “sama seperti ayah dulu pas masih muda” kata ayah. Ayah juga suka pelajaran matematika dan ayah saya selalu bangga setiap kali nilai UN matematika saya yang selalu 9. Ya paling salah satu atau dua dari 40 soal. Makanya ayah saya pengen saya melanjutkan karirnya. Padahal mah saya gak sepintar yang orang tua saya kira. Tapi pas ipk saya 3,63 ayah saya bilang itu standar. Padahal itu udah besar banget dan mau dapet ipk segitu saya udah banting tulang, banting otak, banting buku, dan badan kurus kering begini dibilang standar. Rasanya tuh sakiit disini *nunjuk jantung*. Memang sih bukan yang terbaik, ada yang ipk nya 3,79 dan 3,76. Tapi tetep aja proses dapat ipk segitu tuh berat dan ayah gak bangga.

Kadang saya kesal dengan sifatnya itu yang kadang bikin saya khilaf bernada tinggi. Ada beberapa sifat yang gak akan saya ceritakan tapi ini yang selalu bikin orang serumah kesal. Bikin emosi mulu dan saya gak suka dengan orang seperti ini. Tapi ibu saya pernah bilang mungkin karna masa muda ayah yang sulit jadi terbentu sifat seperti itu. Ayah sering cerita tentang masa mudanya yang berat itu dan mungkin itu yang menjadi faktor terbentuknya sifat itu. Mungkin proses pendewasaan yang kurang saat muda dan masa muda yang kurang bimbingan jadi salah membentuk karakter.

Kemarin di motor untuk kali pertama ayah cerita tentang rasa kecewannya. Saat itu memang sedang ada masalah di rumah. Saya enggak tau kalau sebegitu kecewanya dan sedihnya ayah. Sampai ayah bilang kalau saya harapan paling besar ayah dan ayah saya capek ngurusin anak-anaknya yang bandel. Memang diantara yang lain saya yang paling banyak berkomunikasi dengan ayah saya. Adik-adik saya tempramen dan sering marah. Makanya ayah saya lebih banyak cerita dengan saya. Dari cerita ayah yang saya tangkep ayah sedih kalau anaknya ngomel-ngomel mulu dan gak bisa diajak berkomunikasi. Maklum, selama kerja ayah jarang berkomunikasi dengan anak-anaknya jadi kurang deket dengan anak-anaknya. Sedih dengernya ayah cerita begitu. Di masa pensiunnya yang lebih banyak di rumah ayah malah gak bisa berkomunikasi baik dengan anak-anaknya.

Mendengar cerita ayah saya yang begitu sekarang saya jadi berhati-hati kalau kesel gak mau bernada tinggi lagi. Mungkin setiap orang tua juga sedih ya setiap kali anaknya marah-marah dengan orang tuanya atau bebicara dengan nada tinggi. Orang tua mungkin gak akan menunjukkan kekecewaannya atau sakit hatinya tapi yang namanya rasa kecewa atau sakit hati dari orang yang paling dekat itu paling menyakitkan. Coba aja dikecewain sama sahabat deket atau pacar pasti gak enak kan. Bagaimana orang tua yang harta, benda, jiwa, raga, semuanya di upayakan untuk anaknya tercinta. Makanya agama mengajarkan untuk bernada lembut saat berbicara takutnya orang tua sakit hati dengan nada kita yang tinggi. Ahh ayah maafkan anakmu ini yang kadang gak mengerti perasaan ayah. you’re my hero.

Jumat, 15 Agustus 2014

Tinggal Beberapa Hari Kita Menghabiskan Waktu Bersama




Tanggal 4 Juli 2014 adalah hari buka bersama bareng teman-teman kamar 105 atau nama lain yang kita bikin waktu diasrama itu “Sasoma”. Mereka mereka ini adalah keluarga kedua gue. Hari ini walaupun gak lengkap cuma bertujuh kami mengadakan buka bersama. Tadinya kita pengen berfoto keluarga tapi sayang personil tidak lengkap.

Kali ini bukan kejadian hari ini yang bakal gue ceritakan tp bernostalgia dengan semua kenangan-kenangan 3 tahun terakhir kami bersama. Selama di motor mata gue berkaca-kaca memandang kedepan dengan pikiran kilas balik tentang mereka semua. Ahh sedih kalau sudah mengingat kenangan. Enggak terasa sudah sedikit lagi atau sudah mau habis masa kita teman.

Pertama kali masuk asrama kesepuluh orang ini yang gue temukan. Di perguruan tinggi yang dibilang bernaung atas nama kemenkes ini menempatkan kami bersepuluh dalam satu asrama tua yang entah tahun keberapa Soeharto menjabat sebagai presiden, asrama ini dibangun. Bayangkan coba sumpeknya kayak apa dan 1 tahun kami harus mendekam dalam kamar yang kecoanya banyak itu.

Kami bersepuluh punya watak yang berbeda-beda. Yaa wajarlah kalau kami bersepuluh sulit menyatukan pendapat. Bahkan sampai buka puasa yang terakhir pun sebagai mahasiswa kebidanan kami tetap tidak utuh. Walaupun begitu saya banyak belajar dari 10 kepala ini. Disini kita punya ego masing-masing yang berbeda jadi mau gak mau harus ada saling pengertian entah itu masalah tidur yang lampunya gak bisa dimatiin atau dimatiin, belajar yang gak bisa dengerin musik dan bisa dengerin musik lah. Pokoknya banyak lah hal sepele jadi masalah.
Masih ingat kah kalian tragedi tambang emas. Ini adalah fenomena luar biasa yang pernah saya alami yaitu toilet mampet dan emas (maaf feses) mencuat keluar. Berhari hari kita hidup dengan bau yang menyengat. Makan, tidur, belajar, dan aktifitas lain kita lewati dengan bau-bau itu. Untungnya mandi masih bisa numpang. Ini salah satu kenangan yang sampai gue tua gak bakal dilupain. Dibalik kesulitan pasti tersimpan kenangan yang gak terlupakan.

Itu hanya segelintir kisah pilu yang kita alamin bareng. Masih ada yang lainnya. Kayak perlakukan senior yang bikin kita kurang tidur, dewi alerginya kambuh, gue jadi ngantuk mulu, wulan jadi panas dalem mulu, rofi jerawatan, dan lainnya. Betapa sengsaranya kita dulu mau jadi bidan aja kayak gini. Tapi sekarang sudah terlewatin. Sudah habis masanya dan tinggal beberapa hari kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama seperti ini.

Selain hidup susah bersama kita juga berbagi cerita bersama, berbagi kesedihan bersama, berbagi makanan bersama, berbagi baju bersama, berbagi buku,  bedak, lip ice, eyeliner, hanger, sampai celana dalem juga gara-gara inisial namanya sama-sama DP. Untung gak berbagi pacar. Eh…

Oh iya dulu kami satu kamar adalah penyumbang jomblo terbesar di dunia. Eh gak dunia maksudnya satu asrama. Bayangkan dari 10 orang hanya 2 orang yang memiliki pacar. Betapa mirisnya hidup kami. Eh, tapi enggak juga sih dulu saya jomblo tapi bahagia banget bareng mereka tapi semenjak Negara api menyerang saya tidak bahagia. Okee fokus, ngomong udah ngelantur.

Rasanya sedih banget kalo mengulas balik masa lalu. Nanti saat wisuda tiba, waktu bersama kami habis. Semua terpencar ke daerahnya masing-masing. Enggak ada lagi yang bawel-bawel mengomentari cara gue memakai deodorant, gak ada lagi yang mau dandanin gue kalau pergi-pergi, gak ada lagi yang pagi-pagi bangunin bawain makanan dan bilang “kasdut, gue bawa makanan kesukaan lo nih” dan seketika itu juga gue langsung bangun karna denger kata makanan. Mereka semua tau bahwa orang yang paling doyan makan itu gueee. Yaa nanti enggak ada lagi teman menggalau, teman cerita, teman rame-ramean. Dan enggak ada lagi orang-orang seperhatian kalian yang gue anggap kayak kakak sendiri.

Teman, waktu kita tinggal sedikit lagi untuk menghabiskan waktu bersama. Aku, kamu, kalian, kita, masing-masing sudah tau seluk beluk sifat, kebiasaan, dan isi hati masing-masing. Kadang suka mikir nanti kalau sudah kerja bisa gak ya ketemu orang aneh-aneh ini lagi. Bisa gak ya menemukan orang seasyik dan sekeren kalian. Bisa gak ya menemukan rasa nyaman senyaman bersama kalian. 3 tahun selalu bersama setiap bangun ngeliat kalian, mau ke kamar mandi liat kalian, mau kuliah ketemu kalian, bahkan sebelum tidurpun muka kalian yang gue liat.

Nanti saat kita mengejar karir masing-masing sempatkanlah waktu sejenak untuk saling menyapa, kalau bisa bertatap muka. Saling bercerita tentang kehidupan kalian tanpa kita bersama. Sharing tentang pengalaman kalian disana. Sharing tentang masalah-masalah kebidanan atau bernostalgia menceritakan pengalaman kita bersama. Setidaknya sempatkanlah waktu sejenak, luangkan waktu kalian nanti ditengah kesibukan kalian.

Sekiranya ditulisan ini hanya sedikit kenangan yang gue ulas tapi gak mungkin juga semua gue tumpahkan dalam tulisan disni. Terlalu banyak kenangan kita. Setidaknya kita menyimpan semua kenangan itu di otak kita masing-masing yang sewaktu-waktu nanti kalau kumpul lagi bisa kita ceritakan lagi. 

Tinggal sedikit lagi waktu kita bersama teman, semoga sukses dengan karirnya masing-masing. Beruntung banget bisa kenal kalian.. kalian keluarga kedua gue. Terima kasih untuk kenangan manisnya..