Rabu, 03 September 2014

menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga?

hari ini saya ingin membahas sebuah pilihan yang pasti semua wanita memikirkan ini. obrolan sesama temanpun sekarang berubah menjadi kapan menikah, pilih suami bagaimana, kerja apa, mau menikah umur sekian, mau punya anak berapa, dan lainnya. wajar sih kalau perempuan membicarakan ini karena umur 20+ itu pasti pikirannya mengarah kesana.

umur yang sudah kepala dua bagi wanita itu ancang-ancang untuk bagaimana membangun rumah tangga. sekarang-sekarang ini juga saya sering membaca blog-blog orang tentang mengurus atau mendidik anak yang baik seperti apa. entah kenapa saya mulai tertari dengan hal-hal seperti itu. apalagi profesi saya yang keibuan. jadi saya seperti diarahkan untuk menjadi ibu yang baik. apa terlalu tua ya bacaan saya? -.-

kali ini saya dibingungkan untuk memilih apakah mau jadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga yang baik. dari awal saya kuliah saya memilih sebagai tenaga kesehatan, lebih tepatnya sebagai bidan, kenapa?. karena saya pikir nanti pekerjaannya tidak terlalu berat yang setiap hari berangkat subuh pulang sore. bekerja seperti itu resikonya adalah ada yang terlantar yaitu keluarga. saya tidak mau seperti itu. kalau jadi bidan saya bisa kerja di rumah tapi nyatanya waktu libur itu minim sebagai tenaga kesehatan. tanggal merah aja masih masuk. tapi saya suka menjadi bidan.

semenjak magang di RSUD tangerang saya semakin cinta dengan profesi saya. saya suka melakukan tindakan-tindakan itu seperti menolong persalinan, heacting, suction, dan yang lainnya. semakin hari semakin ngerasa cinta banget sebagai bidan. padahal tahun kemarin sampe nangis-nangis gak mau jadi tenaga kesehatan gara-gara suatu tragedi. karena sudah semakin ngerasa nyaman, keinginan saya untuk kuliah dan kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi semakin menjadi.

sekarang saya ingin berkarir tapi tetap saya tidak mau nanti kehilangan momen-momen berharga pertumbuhan anak saya. *haduh lebay*. apalagi nanti sebagian watu anak saya bukan dihabiskan banyak bersama saya. atau nanti anak saya akan lebih dekat dengan pembantu. ahh itu yang saya paling tidak mau. tapi saya ingin tetap berkarir. tetap ingin ada suatu pekerjaan diamana saya bisa mengabdi buat masyarakat banyak seperti di tv tentang pengabdian bidan.

pernah suatu hari saya berkumpul dengan teman SMP saya. teman saya mengatakan kalau melihat ibu-ibu perkantoran yang kalau jam pulang semua buru-buru pulang takut anaknya belum makan atau ada anak yang masih ASI, temen saya tidak mau jadi wanita kantoran yang sesibuk itu sampai anaknya terlantar. kerjapun jadi tidak konsentrasi karna memikirkan anak di rumah yang masih kecil. saya mendengarnya jadi mikir nanti kalau kerja seperti itu bagaimana anak saya yaa. teman saya malah gak mau kerja disitu. dia ingin bisa mengurusi keluarganya nanti tapi tidak telalu sibuk. sekarang mumpung jadi mahasiswa dia ikut kegiatan sana-sini, organisasi sana sini biar masa mudanya tidak penasaran katanya.

nahh saya juga berpikir seperti itu. ingin berkarir tapi tidak menghabiskan banyak waktu untuk berkarir. mungkin porsinya lebih banyak untuk keluarga. bukannya pendidikan awal seorang anak itu dari ibunya? jika ibunya saja sibuk dengan karirnya, siapa yang akan memberikan pendidikan yang paling pertama pada anak-anaknya? ahh saya tidak mau kalau anak saya nanti mempelajari sesuatu yang tidak baik sejak kecilnya misal dai pembantu. anak-anak kan mudah menirukan kebiasaan oang disekitarnya. jika ibu dan ayahnya orang paling terdekat dan yang paling sering dilihat memberikan contoh yang baik, anak tersebut pun akan menirunya.

ini terjadi pada aya saya yang dulunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan semua urusan anak-anaknya lebih banyak ibu saya yang mengurus. sekarang dimasa pensiun ayah saya, komunikasi dengan anaknya tidak baik. ade saya lebih banyak mendengarkan ibu saya. saya pun juga seperti itu. walaupun saya baru baru ini sadar kalau penyebabnya karna itu. seharusnya dalam keluarga peran orang tua itu harus seimbang. oleh karna itu kita yang masih muda-muda nih harus banyak belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik sejak dini.

saya mungkin lebih ingin menjadi ibu yang baik tapi tetap bisa berkarir. tapi apapun pilihannya berkarir tau menjadi ibu rmah tangga setidaknya kita harus punya banyak ilmu sebagai orang tua kelak nanti. sehingga masalah yang pernah di alami dalam keluarga yang salah tidak terulang lagi. apalagi seorang ibu, kita harus memiliki banyak ilmu, baik ilmu pengetahuan umum, ilmiah, agama, kehidupan, dan yang lainnya. mempersiapkan diri untuk lebih bijak dan lainnya.

teman saya pernah berkata namanya yuyun, orangnya alim sekali. yuyun bilang "kita semua adalah calon ibu, anak pertama kali belajar dari ibunya jadi kita harus banyak belajar bagaimana menjadi oang tua yang baik" dan tambahannya "menikah itu persiapannya bukan minggu depan menikah baru belajar jadi orang tua tapi mulai sejak dini kita mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik biar nanti bisa mencetak anak-anak yang soleh dan soleha". subhanallah memang teman saya yang satu ini semakin lama semakin bijak. beruntung saya punya teman seperti ini.

oke intinya adalah apapun yang kita pilih nanti tetap belajar menjadi orang tua yang baik. perbanyak baca buku dari sekarang karena membangun sebuah keluarga bukan hanya sebatas cinta tapi dibelakangnnya ada embel embel yang banyak sekali yang harus dipertanggng jawabkan baik di dunia atau diakhirat. semoga postingan saya kali ini gak sekedar tulisan belaka tanpa praktek tapi bisa jadi penyemangat buat saya dan yang membacanya untuk menjadi orang tua yang hebat yang dapat mencetak anak-anak yang luar biasa. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar